Bienal Para Sastrawan


Untuk keenam kaliya Utan Kayu dan Salihara menyelenggarakan Bienal Sastra 2011 yang akan berlangsung sepanjang Oktoher. Ini seperti sebuah pesta bagi "sastra", yang di sana menjadi sesuatu yang hidup, bernapas, beremosi, berempati, marah, mencintai, dan bisa dicintai.

berita kompas bineal 1

Penyair D Zawawi Imron memasuki panggung dengan tubuh condong yang disangga kruk di ketiak kanannya. Kruk itu akhirnya ia sandarkan di sebuah "buku" raksasa bersampul biru yang dia duduk selarna membaca sejumlah karyanya dengan menyilangkan kakinya yang berbalut sarung.

Ya, awalnya ia duduk tenang, sesekali membetulkan peci hitam di kepalanya Namun, kian lama penyair kelahiran Batang-batang, Madura, pada 1945 itu justru makin "hidup". "Dzikir," Zawawi berteriak keras membaca judul puisinya, punggungnya terbuang ke belakang kakinya yang meregang terangkat dari lantai, puluhan penonton menahan napas.

"Aliiiiif. Aliiif, Alif, Alif, Alif, Tuhan, Alif Mu pedang di tanganku…,” lantang ia membacakan bait-bait puisinya Lewat beberapa baris, Zawawi membaca dengan ritmis:

Hompimpah hidupku,
Hompimpah matiku,
Hompimpah nasibku,
Hompimpah hidupku,
Hompimpah matiku,
Hompimpah nasibku

berita kompas bineal 3

Di antara tumpukan buku-buku raksasa yang terserak di lantai, rak buku yang meliuk seolah tak berujung, dan bola dunia yang ada di panggung Teater Salihara, "sastra" hidup dan menghidupkan Jumat (4/10) malam, Zawawi hadir bersama Danarto, F Rahardi, dan Joko Pinurbo.

Dalam sesi "Ironi, Humor, Sufi" itu, Danarto membacakan cerita pendek tentang suara-suara dan komputer "pengurai suara". Danarto menulis cerpen "canggih" itu tahun 1974, sebuah cerpen visual dengan sejumlah struktur abjad yang berulang beraneka bentuk. Cerpen yang judulnya berupa partitur bunyi-bunyian itu penuh dengungan tanpa arti, berulang di sela-sela narasi sebuah pertunjukan tarian sakral yang dibacakan indah oleh Danarto.


berita kompas bineal 4

Mimik serius F. Rahardi memompa tawa penonton ketika ia membacakan cerpen “Dalang” yang penuh jargon Orde Baru. "...banjir besar itu sebenarnya sudah tidak murni lagi. Diduga sudah ada pihak-pihak tertentu yang mencoba menungganginya…," humor satire Rahardi meloncatkan imajinasi pada layar kaca zaman Orde Baru yang penuh jargon, tudingan, dan penandaan dari para kroni Soeharto.

Joko Pinurbo hadir dengan pusi-puisi indahnya yang berangkat dari kisah sederhana dan cintanya kepada ayah dan ibu. Puisi yang sepi kata-kata jenaka, tetapi selalu mengundang senyum dan membangkitkan kenangan tentang rumah.


berita kompas bineal 2

Khazanah luas
Bienal Sastra menghadirkan "sastra" sebagai khazanah yang luas. Selasa (11/10), sastrawan Pakistan, Tariq Ali, membuka pekan kedua perayaan sastra itu dengan ceramahnya, "Benturan Antar-fundamentalis", yang diawali sebuah peringatan perlunya Indonesia membuka sejarah gelap pembantaian pasca-pembantaian 1965 demi mernastikan tragedi kemanusiaan itu tidak berulang.

Pembantaian itu diesbutnya sebagai bagian dari benturan fundamentalis dalam bentuk baru, yaitu fundamentalisme negara. “Tidak ada intervensi humaniter untuk menghentikan pembantaian 1965 karena justru para intervensor itu penyokong pembantaian. Fundamentalisme agama memonopoli tafsir atas dogma agama. Fundamentalisme dalam bentuk negara hadir ketika sebuah negara menjalankan praktik apa pun demi kepentingannya, bahwa hanya negaranya yang penting dan benar. Bukan peradaban yang saling berbenturan, tetapi fundamentalisme," ujar Ali.

Karya sastra Tariq Ali, seperti "Redemption", "Shadows of the Pomegranate Tree", dan kuintet peradaban Islam seperti "The Book of Saladin", "The Stone Woman", atau "A Sultan in Palermo" bersandingan dengan karya pemikirannya, misalnya "Clash of Fundamentalisms" atau "The Idea of Communism". Di Bienal Sastra, Tariq Ali tidak berujar tentang karya sastranya, tetapi justru berbicara tentang sejarah ketimpangan, hegemoni, dan keserakahan manusia, yang menjelaskan tentang dapur proses kreatif Ali.

berita kompas bineal 5

Bienal Sastra juga berbicara sejarah. Sastra dan sejarah manusia sama-sama memakai bahasa, begitu kata Direktur Bienal Sastra 2011 Ayu Utami. "Dan sastra bisa disebut sebagai bentuk ekstrem dari penggunaan bahasa Sastra dan sejarah yang dikonstruksikan manusia tidak bisa dipisahkan Apakah sastra memakai sejarah atau penyampai sejarah memakai sastra, itu tak terpisahkan," kata Ayu.

Rabu (12/10) malam, Shirley Geok-Lin Lim, profesor sastra dari University of California, membacakan bagian memoamya, "Sister Swing", yang mengisahkan kenangannya tentang ayah serta jati dirinya sebagai seorang perempuan yang tumbuh besar dalam budaya Melayu, dalam keluarga peranakan. Bre Redana, wartawan Kompas, membacakan sekuel novel Blues Merbabu berjudul "65" yang jenaka, berkisah tentang manusia dalam lintasan sejarah kelam pembantaian pasca-pembantaian 1965.

Steven Conte, sastrawan Australia, membacakan The Zookeeper's War, kisah seorang perempuan Australia bernama Vera yang menikahi seorang Jerman sebelum Perang Dunia II dan terperangkap nasib ketika perang meledak Iain Barnforth, sastrawan kelahiran Skotlandia yang kini tinggal di Perancis, membacakan sejumlah puisinya yang banyak mengangkat pengalaman pribadinya sebagai seorang dokter.

Pembacaan karya yang berangkat dari fakta itu berujung pada satu pertanyaan kunci, apakah sastra bertugas mengonstruksi sejarah? Bre Redana lugas menjawabnya "Sejarah tidak perlu dilurus-luruskan. Yang dibutuhkan adalah orang menulis sebanyak-banyaknya, apa pun, sehingga orang lain bisa melihat sejarah dari berbagai segi," ujar Bre.

Pekan ketiga Bienal Sastra akan merayakan "sastra" serta berbagai wajah dan ranahnya Diskusi "Sastra dan Tradisi Islam" akan digelar Rabu (19/10), sementara pentas "Sastra Klasik Antarbenua" digelar pada Jumat (21/10). Pada Sabtu (22/10) akan digelar pentas "Cerita Nusantara dalam Bahasa Indonesia dan Daerah". Mari Kita rayakan sastra di Salihara.

 

ARYO WISANGGENI
KOMPAS, 16 Oktober 2011